Halo lagi, Ranum

Ranum, sudah kusiapkan surat untukmu. Tapi tak jadi kukirim. Aku sedang sedih saat ini.
Ranum, rasanya seperti ada batu besar yang mengganjal di dada. Sesak sekali, Ranum. Kali ini aku mengutuki kebodohanku. Harusnya kudengar saja kata mereka. Aku punya hidupku sendiri. Begitu pula dirinya. Harusnya aku tak usah menengok barang sekali. Harusnya aku tutup mata, telinga, dan hatiku. Harusnya kusudahi sampai di situ.

Toh, dia juga tak pernah membacaku. Tak pernah berusaha belajar membaca tanda-tanda yang kukirim. Tak pernah sekalipun memperjuangkanku. Ranum, apa dia lupa kalau aku juga punya perasaan?

Ranum, kadang aku berpikir, apakah dia pernah merasa seperti ini juga?
Tapi kurasa tidak. Dia tidak terlalu peka terhadapku. Mungkinkah dia merasa kehilanganku? Kurasa juga tidak. Bukankah ini pilihannya?

Ranum, selalu doakan yang terbaik untukku. Seperti aku juga selalu berdoa untuk kebaikanmu, kebaikannya, kebaikan mereka.

Mendadak aku tidak bisa tidur.
Tapi juga malas untuk lanjut menulis..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s