Untuk Ranum

Halo, Ranum.
Apa kabar? Bagaimana kotamu? Masih indahkah dengan Daun yang berguguran dari pohon-pohon besar di pinggir jalan? Sedang apa kamu di sana saat ini? Saat tanggal baru saja berganti. Apakah kabut masih turun di sana? Aku membayangkan kamu bermain gitar di dekat jendela kamarmu yang menghadap ke halaman depan. Memainkan lagu yang lembut sambil menyaksikan kabut yang perlahan turun menyapu halaman depan rumahmu.

Ranum, aku ingin bercerita. Seandainya aku sekarang di kotamu, mungkin aku akan langsung ke tempatmu, mengajakmu berbincang di teras depan rumahmu. Berbicara panjang lebar, lalu kita akan menyanyikan lagu-lagu yang hanya sepenggal aku hafal liriknya, lalu berbincang lagi. Kita akan butuh banyak makanan ringan. Kita akan menyaksikan warna langit berubah dari hitam pekat menuju ungu, lalu sedikit jingga, lalu cerah sempurna.

Tapi aku di sini, Ranum. Di tempat yang mungkin jauh, mungkin dekat, dari kotamu yang entah di mana. Mendengarkan lagu-lagu yang entah kenapa aku suka meski aku tak paham makna liriknya. Menyaksikan film drama romantis di kamarku. Apa yang kau pikirkan? Aku tahu kau akan mengejekku. Memang sangat tidak keren, Ranum, Aku tahu. Hahahaha

Bagaimana rasanya menjadi kamu, Ranum? Tapi aku tidak mau menjadi kamu. Aku mau menjadi diriku saja. Menikmati waktu yang lewat dengan kesibukan yang mungkin menurutmu semu. Mungkin kau akan menganggap diriku menyedihkan. Tapi tak seburuk itu sebenarnya. Banyak cerita juga di sini. Mungkin kau akan tertarik pada beberapa ceritaku.

Ranum, kapan kau akan berkunjung ke kotaku? Kota yang penuh kebosanan ini. Melihatku menjalani rutinitas yang memang membosankan. Kapan kau akan mengajakku pergi sejenak dari hirukpikuk kota angkuh ini? Aku akan lebih suka kalau kau menjemputku dengan motormu yang kau banggakan itu. Apakah dia sanggup mencapai kotaku, Ranum? Kudengar dia sudah tua. Jangan tersinggung. Hahaha

Aku ingin bercerita banyak kepadamu. Aku ingin menghabiskan waktu denganmu. Tertawa dan lepas barang sejenak dari kesibukan yang ada di kotaku. Boleh? Aku ingin mengabiskan senja bersamamu. Kau tahu kan aku suka telaga? Kita akan menghabiskan senja di tepinya.

Ranum, pernahkah kau berpikir tentang jalanan di kotamu? Betapa ia merasa kesepian saat ini. Tidak ada yang menapakinya. Hanya dedaunan yang luluh dari tangkainya dan kabut yang menemani.

Ranum, aku kesepian. Aku butuh orang untuk berbagi tawa dan cerita. Apa kamu kesepian, Ranum? Tidak ada yang mengerti tentang kesepian, Ranum.  Bahkan dia tak mengerti. Kau tahu tentang dia, kan? Ya, yang waktu itu aku ceritakan. Yang menangis untukku. Dia tak sadar aku sering merindukannya. Jangan cemburu, tapi memang aku lebih sering merindunya daripada merindukanmu. Sama seperti kau yang sering merindu kekasihmu itu. Eh, bagaimana kabar kekasihmu? Masih suka tersenyum manis padamu? Semoga masih. Aku tahu kau akan sangat bahagia melihat senyumnya. Bagaimana kalau dia tak lagi senyum untukmu? Aku tak dapat membayangkan.

Ranum, banyak sekali yang ingin aku tulis di sini. Tapi aku bingung bagaimana merangkai kata-kata yang berjejal di kepalaku agar kau mengerti apa yang kurasakan. Baiknya kusudahi saja tulisanku ini sebelum kata-kata menjadi semakin liar dan aku tak sanggup lagi mengendalikannya. Lebih baik diam.

Selamat dini hari, Ranum. Semoga harimu selalu bahagia.

P.s: jangan bosan dengan ceritaku ya, Ranum. Kau tahu kan aku senang bercerita. Lain kali kusertakan foto.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s