doa

“doa manusia harus diucapkan dengan jelas” katamu waktu itu.

aku bilang “tidak perlu. Tuhan tau apa yang kita mau, kan? bukankah Dia Maha segala-galanya?” balasku. lalu kau bilang “terserah kamu lah. aku tidak mengerti jalan pikirmu”.

lalu tiba hari ini. hari di mana aku tak tahu lagi apa yang kumau. hari di mana kau tidak lagi tau apa yang kau mau. tentang kita tentunya. bukan tentang aku, atau tentang kamu. baiknya kita berdoa saja untuk kebaikan kita berdoa. tapi aku takut berdoa. aku takut doaku tidak sama seperti doamu. jika tidak sama, lalu bagaimana Tuhan nanti mengabulkan doa kita? kasihan, nanti Dia kerepotan karena ulah kita, bukan?

lalu kau ceritakan kisah tentang burung dan batu. Kau kisahkan bahwa ada seekor burung yang mencinta batu. awalnya burung itu menerima batu apa adanya. tapi lama kelamaan burung itu ingin batu menjawab semua pertanyaannya, menemaninya bercakap di pagi hari, dan mengatakan rasa sayangnya kepadanya. bagaimana cara burung berbicara dengan batu? tentu saja dengan hinggap di atas batu, bercicit, lalu menunggu batu menjawab. jika merasa kesal karena batu diam saja, maka burung akan mematuki batu. mematuki bukan dengan keinginan menyakiti. burung mematuki batu hanya untuk membuat batu berubah menjadi burung juga, sehingga mereka bisa terbang bersama. burung bodoh. mana mungkin batu bisa berubah menjadi burung. tapi burung tetap yakin. bukankah dia sudah berdoa dengan jelas bahwa ia ingin batu berubah menjadi burung agar dapat terbang bersama.

Tuhan tidak buta dan tuli. maka Ia kabulkan doa burung tanpa harus mengubah batu menjadi burung. karena Tuhan tahu, mengubah batu menjadi burung tidak mungkin di mata hambanya. Ia membiarkan burung mematuki terus menerus batu itu. lalu batu itu berubah menjadi serpih. burung tak lagi dapat berpijak di atas batu yang menyerpih. maka ia mebawa beberapa serpihan di paruhnya untuk ia bawa terbang. ia bawa ke sarangnya. bukankah Tuhan sudah mengabulkan doa burung agar dapat terbang bersama batu? Namun Burung tidak sadar, ia tetap ingin batu yang meyerpih itu berubah menjadi burung. ia tetap saja mematuki serpih itu hingga menjadi debu, lalu terbang, hilang. lalu burung menjadi sedih dan tak lagi berdoa kepada Tuhan.

“begitulah kisah si burung” ujarmu.

kasihan si burung. kenapa ia begitu bodoh dengan memtuki si batu? tapi ia adalah burung paling setia dan kuat yang pernah ada. bagaimana ia tetap mencinta jika ia tidak merasa dicinta? lalu aku sadar, apakah batu dan burung itu kita? atau sekarang kita sama-sama menjelma burung saja, agar kita dapat sama-sama terbang tinggi di langit. atau kita menjelma batu? sama diam berdua di tepi sungai.

kulihat kau diam di pinggir sungai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s