Bingung

Aku sedih melihat Kartono sedih. Ia pulang dengan amat sangat lesu. Tak usah aku bertanya kepadanya, aku sudah tahu mengapa ia sedih. Aku tahu, ia tadi menunggu Bapak seharian di pinggir jalan dekat Kelurahan, sedari pagi hingga maghrib. Sengaja ia bangun pagi-pagi sekali, mandi, lalu berdandan rapih. “mau menjemput Bapak” katanya. Ia senang sekali ketika waktu itu Bapak menelpon lalu berkata bahwa Sabtu ini dia akan pulang dan membawakan Kartono buku. Biar dikata bocah kampung, Kartono senang sekali membaca. Dia itu pintar. Seperti aku, mbakyunya.

Aku sudah tau hal ini akan terjadi. Aku malas berharap banyak sama Bapak. Sudah sering ia menelpon kami – Aku, Kartono, dan Simbok— dan berkata akan pulang sambil mengiming-imingi sesuatu. Aku sudah kebal sekali dengan iming-iming Bapak. Bagus kalau bapak sms dan bilang tidak jadi datang. Yang sial adalah ketika seperti hari ini, sudah ditunggu tapi tidak jadi datang dan tak ada kabar.

Simbok acuh saja. Aku tahu Simbok sedih melihat Kartono diam begitu. Tapi ya mau apa lagi? Aku tahu dia lelah lahir-batin. Banting tulang demi anak-anaknya. Untung aku dan Kartono tergolong anak yang cukup cerdas. Aku mendapatkan beasiswa disekolahku, sedang Kartono mendapat keringanan dari sekolahnya.

Aku, sebagai perempuan ya sakit hati juga melihat Simbok diperlakukan tidak adil begitu sama Bapak. Kalau memang tidak bisa pulang dan tidak akan pulang, bilang saja. Cerai lebih baik. Jangan digantung seperti ini. Aku tahu sudah tak ada harapan lagi di diri Simbok mengenai kepulangan Bapak. Aku tahu karena Simbok sering bilang “sudah, jangan tanya lagi kapan Bapakmu pulang. Simbok ndak tahu ”. Ya, Simbokku itu wanita yang lugu, nrimo, dan kuat. Aku sayang sekali sama Simbokku itu.

Bukan berarti aku tak sayang Bapakku. Aku juga sayang sama bapakku. Dia orangnya lucu, humoris dan suka tertawa. Aku senang kalau bercanda sama Bapak. Dulu keluarga kami tidak seperti ini. Bapak sering memasakkan kami makanan yang enak-enak. Bapakku itu jago masak. Simbok dulu tak sekering sekarang jiwanya. Dulu ia sering tertawa dan membelai rambutku. Sekarang juga ia masih membelaibelai rambutku, tapi kalau sudah malam saja, setelah pekerjaannya rampung. Dan kebanyakan aku sudah tertidur ketika Simbok sudah selesai bekerja. Dulu Simbok hanya mengurusi rumah tangga sambil membantu di kebun sedikit-sedikit. Tapi sekarang Simbok kerja serabutan. Jualan nasi kuning yang dititipkan di sekolah-sekolah, jadi tukang cuci, tukang masak, tukang beres-beres rumah orang, semua ia lakoni jika ia masih sanggup.

Aku bukannya tidak membantu apa-apa. Aku juga berjualan di sekolahku. Aku berjualan pulsa, kue-kue kecil, dan gantungan kunci buah karyaku sendiri. Aku sebenarnya tidak rela melihat ibuku banting tulang begitu. Makanya aku ingin cepat-cepat menyelesaikan pendidikanku, menjadi orang sukses, lalu membantu Simbokku.

Bapak pergi bukan tanpa alasan. Sudah kubilang tadi bahwa Bapak itu jago masak. Maka ia pergi ke Jakarta untuk menjadi juru masaknya Kang Parno di warungnya. Dulu Bapak masih sering mengirimi kami uang, buku, dan baju. bapak juga tidak jarang pulang untuk menengok kami setiap ada kesempatan. Tapi lama-lama Bapak semakin jarang pulang, jarang menelpon, dan jarang mengadakan kontak dengan kami di sini. Kukatakan jarang, bukan tak ada karena bapak masih suka mengabarkan akan pulang –yang tak pernah terealisasi.

Dan yang paling sedih dengan perubahan Bapak adalah Kartono. Ya, dibandingkan denganku, dia lebih dekat dengan Bapak. Dulu ia sering bersepeda keliling kampung dengan Bapak. Mereka sering menonton bola berdua di lapangan kelurahan dekat rumah. Sepertinya istilah Oedipus Complex yang sering dibicarakan guruku tidak berlaku untuk Kartono.

Tidak terasa sudah 6 tahun bapak pergi. Dan sudah 4 tahun bapak tidak pernah pulang ke rumah lagi. Kartono masih saja terpukul jika Bapak tidak jadi datang. Kartono memang bau kencur. Tidak tahu apa-apa. Aku sudah tidak lagi bau kencur, aku sudah menstruasi dan sudah sedikit-demi sedikit mengenal hidup – dari buku, dari simbok. Aku sudah malas mengharap kedatangan Bapak. Aku sudah baca banyak sekali buku dan cerita yang ceritanya mirip dengan cerita keluargaku. Kebanyakan berakhir dengan menyedihkan. Aku tidak mau keluargaku berakhir menyedihkan, setidaknya tidak untuk aku, kartono, dan Simbok.

Menurutku di usiaku sekarang, hidup ini mudah saja sebenarnya. Tinggal jalani, ikhlas, dan berusaha. Kalu ada cobaan datang dan tersa berat, anggap saja sebagai bumbu kehidupan. Karena hidup bukan hanya manis. Jika hidup hanya berisi manis, lama kelamaan kita akan bosan, mual, lalu kena diabetes. Makanya ada asam dan garam yang memberi rasa lain. Bahkan terkadang pahit. Ya, ini hanyalah sebuah pemikiran bocah SMA yang belum tahu akan seperti apa hidupnya kelak. Bisa saja, saat ini aku berpikir demikian karena buku-buku yang kubaca saja, sedang pengalaman hidupku masih amat sangat sedikit. Semoga saja, nanti pandanganku tidak berubah. Entah apa arti hidup menurut Simbok. Entah menurut Kartono.

Kartono, adikku itu, sangat mandiri dan sedikit pendiam. Entah kenapa dia jadi begitu. mungkin karena ditinggal bapak. Dia sering bilang kepadaku bahwa dia ingin ke Jakarta menyusul bapak. Aku bingung harus menjawab apa. Andai dia tahu Jakarta tak seindah kampung ini. Andai dia tahu Jakarta tak senyaman yang ada di Tivi. Andai Ia tahu di Jakarta tersimpan sebuah luka. Tapi di mataku dia hanya anak kecil. Sungguh aku tak sanggup melihatnya kecewa karena Bapak.

Aku yakin Simbok juga sama sepertiku. Buktinya matanya selalu berkaca-kaca jika Kartono mengobral harapan-harapannya akan Bapak. lalu malamnya akan kudengar isak tangis tertahan dari Simbok. Ya, kamarku dan kamar Simbok memang hanya tersekat oleh dinding yang terbuat dari anyaman bambu sehingga suara-suara dari kamar Simbok dapat terdengar olehku.

Saat simbok terisak, aku diam tapi hatiku terisak pula. Hatiku yang terisak lama kelamaan lalu mengokoh. Entah kenapa saat Simbok menangis aku langsung menyalahkan Bapak. Aku tahu aku salah, tapi bapak kan tidak tahu kalau aku menyalahkannya. Apa karena aku perempuan, lantas aku membela simbok? aku tak tahu. Tapi aku pikir bahwa setiap manusia, tidak peduli perempuan atau lelaki, jika tahu apa yang simbok rasakan pasti menyalahkan Bapak.

Aku juga rindu Bapak sebenarnya. Tidak bisa dipungkiri aku juga membutuhkan sosok seorang Bapak yang melindungi dan mengayomi keluarga. Aku rindu saat Bapak bercerita soal sawah dan jalan yang dilaluinya. Bapak selalu punya cerita untuk kami. Aku rindu ketika Bapak menanyakan kabarku di sekolah. Aku rindu ketika Bapak memarahiku ketika aku pulang terlalu malam karena terlalu banyak mengobrol di rumah teman. Aku rindu bapak, sungguh.

Tapi aku hanya akan merasa terlalu sedih dan seolah-olah
menjadi orang yang paling malang di dunia. itu tidak baik bagiku, bagi simbok, dan bagi kartono. Aku harus sadar bahwa lebih baik memikirkan bagaimana membahagiakan Kartono tanpa sosok bapak. Jika bapak tidak mau kembali ke sini, itu pilihannya. Aku tak bisa berbuat apa-apa untuk menariknya kembali. Mungkin bapak pikir, kami hanyalah boneka yang kalau ditinggal tidak akan menangis. Tak apa lah. terserah bapak saja. Tugasku sekarang adalah membuat Kartono memaklumi kehidupannya yang tanpa Bapak agar ia tidak lelah menunggu bapak di pinggir jalan, agar ia tidak lelah menunggu bapak kembali, agar ia tidak lelah menenangkan hatinya yang merindu, agar ia tidak lelah memikirkan bapak, agar ia tidak lelah karena kecewa.

Aku tidak dapat menjelma Bapak karena aku memang bukan Bapak. Seandainya dapat menjelma pun aku tak akan menjelma Bapak. Jika aku menejelma Bapak, maka Kartono akan kehilangan sosokku. Aku tak mau itu. Maka aku akan memberi Kartono pengertian bahwa tanpa Bapak pun hidup tetap akan berjalan, dan belum tentu dengan hadirnya Bapak kehidupan akan menjadi lebih baik. Tapi aku bingung bagaimana harus memberitahunya.

Hatiku panas ketika aku tak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan Kartono atas Bapak. Sungguh aku belum bisa menjawabnya karena dalam buku pun aku tak temukan jawabnya. Mungkin jawabnya ada dalam hidup, ada dalam hati. aku bingung ketika kata telah sampai pada batasnya.

Kartono harus aku ajarkan tak acuh ketika menghadapi kata yang setajam sembilu dari mulutmulut yang berlidah lunak itu. Agar ia tak terkoyak jiwanya, tak terusak hatinya, tak terluka perasaannya. Aku benar-benar ingin agar Kartono sadar bahwa tak mengapa kita hidup tanpa bapak. Tapi aku tak mengerti harus bagaimana.

Lalu aku memutuskan menghamba pada nasib. Aku memang tak tahu caranya, tapi nasib pasti tahu. Sudahlah, aku bosan bingung. Aku akan berbicara terus terang kepada Kartono bahwa kemungkinan Bapak untuk pulang itu sangat sedikit. tanpa Bapak dunia tidak runtuh. Tanpa Bapak, aku tetap mbakyunya. Tanpa bapak, Simbok tetap ada. Tanpa bapak, kita tetap bisa makan sekeluarga. Tanpa Bapak pertandingan bola masih ada. Selebihnya, kuserahkan pada nasib yang berkomplot dengan hidup agar Kartono memahami kehilangan bapak. Biarkan aku menjadi apatis di detik ini. Nasib sudah berkata demikian.

********

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s