Menjemput Emak

Hendi manggut-manggut saja saat ia melihat para tukang ojek berbicara tentang politik. Ia tidak mengerti politik, tapi dari wajah para tukang ojek sepertinya politik itu obrolan yang cukup seru. Wajah para tukang ojek bersemangat sekali, Hendi juga ikut bersemangat. Kalau ditanya, dia tinggal manggut-manggut. Tapi lama-lama Hendi bosan juga. Lebih baik ia ngamen lagi; dapet duit.
Hendi memang pengamen. Dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya di sekolah. Kata emak orang miskin susah sekolah kalo enggak pinter banget, dan kata emak pula Hendi itu bukan orang yang terlalu pinter.
Besok hari ulang tahun Hendi yang ke 10. Sebenarnya dia juga ingin merayakannya, meniup lilin yang ada di kue coklat besar. Ahh, pasti bahagia menjadi anak orang kaya yang setiap ulang tahun pasti dirayakan, begitu pikirnya.
Dia hanyut dalam nyanyiannya, sambil bertepuk tangan dia bernyanyi dan berkhayal tentang betapa bahagianya menjadi orang kaya. Tapi sial, dia hanya dapat 500 perak dari seorang pelajar. Dia tidak habis pikir, yang punya uang malah pelajar bukannya ibu-ibu atau bapak-bapak yang sudah bekerja. Ah, sudahlah tidak usah dipikirkan, lebih baik cari angkot lain yang banyak penumpangnya. Dan dia pun menyanyi lagi…

****

Hendi berjalan gontai di sekitaran di terminal sore itu. Ulang tahunnya hari ini dirayakannya dengan tidak bersedih walau pendapatan dari hasil mengamen tidak seberapa. Karena hanya hal itu yang dapat dilakukannya.
Sebenarnya hari itu dia amat sangat merindukan emak. 3 tahun yang lalu emak pergi meninggalkan Hendi sendiri. Hendi dititipkan ke pamannya, Bang Joni, yang bekerja sebagai supir angkot, pengamen, atau pekerjaan apapun yang bisa dilakukan. Emak bilang dia cuma pergi 2 tahun, tapi sekarang sudah 3 tahun. Hendi menangis dalam hati, kecewa karena dibohongi oleh orang yang paling dia percaya.
Hendi rindu senyum ramah emaknya –walau tak jarang emaknya mengomel—. Walau emak bilang hendi tidak pintar, emak menolak hendi dibodohi. Karenanya, emak mengajarkan segala yang ia tahu tentang hidup ini ke hendi, karena hanya Hendilah satu-satunya alasan ia tetap bertahan hidup.
3 tahun lalu emak pergi meninggalkan Hendi. 3 tahun lalu emak bilang kalau ia pergi maka Hendi bisa bersekolah karena emak akan bekerja menjadi pahlawan devisa di arab. Hendi percaya emak, karenanya Hendi tidak protes. 3 tahun lalu emak bilang kalau ia pergi maka Hendi bisa merayakan ulang tahunnya dengan meriah, karena itu Hendi mengijinkan emak pergi. 3 tahun lalu emak bilang kalau ia pergi pasti kembali, dan emak bilang akan kembali dalam 2 tahun saja, karena itu pula Hendi rela emak pergi. Tapi ternyata emak bohong. Harapannya, mimpi-mimpinya musnah satu persatu. Atau emak ternyata tidak berbohong, hanya emak ternyata ketinggalan pesawat dan tak punya cukup uang untuk pulang. Makanya emak kerja 2 tahun lagi disana agar bisa pulang.
Hanya Cerita itulah yang dapat menghiburnya selama ini. Raganya masih berjalan gontai di sekitaran terminal, namun pikirannya menerawang jauh ke Arab. Hendi bercita-cita akan ke Arab suatu saat nanti. Menjemput emak agar tak ketinggalan pesawat lagi.

****
Hendi sedang bernyanyi mengiringi Bang Joni yang sedang bermain gitar di angkot biru itu. Hendi bernyanyi seperti biasa, tapi seorang wanita yang duduk tak jauh dari pintu menangis dengan air mata yg banyak. Hendi bingung, dia menangis karena lagu yang hendi nyanyikan atau karena sesuatu yg lain? dia memang menyanyikan lagu yang sedih. Dia meminta maaf kepada Tuhan apabila wanita itu menangis karena lagunya.
Hendi semakin giat mencari uang, dia ingin menyusul emak ke Arab. Nanti di Arab dia akan membelikan oleh-oleh untuk teman-temannya, khususnya Bang Joni. Karena selama ini bang Joni yang telah melindunginya dari palakan preman-preman terminal, sehingga dia bisa menabung untuk bekal ke Arab. Hendi berjanji suatu saat dia pasti akan ke arab, tapi dia pasti akan pulang. Tidak seperti emak yang terlalu lama tinggal di Arab.
Hendi tak hanya ingin pergi ke Arab saja, namun dia juga ingin pergi ke negara-negara lain yang sering muncul gambarnya di majalah-majalah dan di televisi. Ia berharap Tuhan tak keberatan jika ia menambah keinginannya. “Tuhan sudah banyak tugas”, pikirnya.

****
Kata Bang Joni, mengumpulkan uang dari mengamen saja tak cukup jika ingin menyusul emak. Bang Joni menawarkan Hendi untuk menjadi kernet di angkotnya. Ternyata jadi kernet cukup menyenangkan, hanya berteriak-teriak, mencari penumpang dan menerima uang mereka.
Hendi tak sekedar menjadi kernet, kadang dia belajar menyetir angkot Bang Joni. Bang Joni selalu terlihat keren saat menyupiri angkot biru itu. Hendi ingin menjadi seperti Bang Joni. Lagipula jika ia bisa menyetir pasti penghasilannya akan bertambah. Untuk mengirit keuangan, tak jarang Hendi berpuasa. Namun pengaruhnya tak seberapa. Baik puasa atau tidak, hendi memang jarang makan.
Hendi merasa beruntung dapat mengenal Bang Joni. Tanpa bang joni, mugkin ia tidak dapat mengumpulkan uang, karena dipalak oleh preman terminal. Bang Joni adalah Superman baginya.

****
Bang joni mengajarkan Hendi baca tulis. Kata Bang Joni orang miskin yang gak sekolah emang gak pinter kayak professor, tapi gak boleh bego-bego amat biar gak di bego-begoin sama orang lain. Hendi senang membaca dan menulis. Dengan membaca buku-buku bekas dari Bang Joni hendi bisa berada di alam cerita buku itu. Hendi bisa pergi ke Arab hanya lewat buku. Meski hendi sudah bisa merasakan Arab lewat buku, hendi tetap ingin pergi ke Arab menyusul emak. Di dalam buku itu tidak disebutkan tentang emak yang ketinggalan pesawat. Oleh karena itu Hendi tetap ingin ke arab dan bertanya langsung kepada emak tentang pesawat, tentang perayaan ulang tahun Hendi yang belum sempat dilaksanakan, tentang bagaimana rasanya jadi pahlawan devisa, tentang janji, tentang rindu, tentang semua yang bisa ditanyakan. ya, Hendi harus ke Arab!

****
Umur Hendi sudah menginjak 13 tahun. Hendi sudah dapat menyetir angkot. Tapi jam terbangnya belum sepadat Bang Joni. Hendi merasa keren saat menyupir angkot, kendali ada di tangannya saat ingin berhenti, jalan, ngebut , atau pelan. Hendi serasa menjadi pilot. Bedanya, pilot tidak bisa berhenti sembarangan layaknya Hendi.
Siang itu Hendi sedang nge-tem di stasiun. Biasanya siang hari seperti ini sepi penumpang, jadi Hendi bisa istirahat sebentar. Satu per satu penumpang masuk ke angkotnya. Seorang bapak-bapak memilih untuk duduk di depan. Ia membawa Koran hari ini. Hendi mencuri-curi pandang membaca judul berita utamanya, “Lagi, Penyiksaan TKI di Arab”.
Hendi mendadak ingat emak. Emak juga TKI di Arab. Ia semakin penasaran membaca beritanya. Susah sekali membacanya, terlalu kecil huruf-hurufnya. Akhirnya Hendi menyerah, ia meminjam Koran tersebut dari bapak-bapak itu. Ya tuhan! Hendi mengenal siapa yang dibicarakan di berita itu. Itu adalah pahlawannya. pahlawan devisa bagi negaranya. orang yang dicintainya. Itu adalah emak!
Mendadak semua jadi gelap, yang ada hanya hitam. Indah mengabur, buruk tak ada. Hitam adalah kedamaian tanpa batas bagi Hendi. Semua usahanya menjemput emak serasa hilang dilalap nasib yang begitu tega mempermainkan Hendi. Hendi merasa seperti nyamuk yang sudah lama dimangsa oleh cicak. Dalam hitam ada emak yang tak tergapai. Dalam hitam Hendi menangis dan tersenyum. Dalam hitam semua melebur. Dalam hitam Hendi mencoba melupakan tentang artikel di koran.

******
Sudah satu tahun setelah peristiwa di angkot itu. Hendi masih mencoba melupakan bahwa orang yang dibicarakan dalam koran tersebut adalah orang yang sangat dia kenal. Hendi masih beranggapan bahwa Emak masih di Arab, ketinggalan pesawat.
oleh karena itu, Hendi masih giat mengumpulkan uang untuk pergi ke Arab. Hendi tetap akan menyusul emak. Kasihan emak, terlalu lama ketinggalan pesawat pasti bosan juga. Hendi ingin menjemput emak dengan senyumnya.
Hendi masih ikut angkot Bang Joni yang warna biru. Hendi akan menggantikan Bang Joni menyupir sekiranya Bang Joni terlihat lelah. Jika Hendi bosan menyupir, ia akan mengamen di kereta. Hendi suka sekali bepergian. Dia paling tidak suka saat mengetem. Membosankan!

*******
Siang itu Hendi bertugas sebagai kernet Bang Indro, Bang Joni mengantar keluarganya liburan. Anaknya merengek minta pergi ke ragunan melihat kuda nil. Hendi sebenarnya ingin sekali ikut, namun ia sadar diri, ia tidak ingin merepotkan Bang Joni lagi.
Penuh sekali angkot Bang Joni saat itu. Jika keadaan angkot sudah penuh seperti itu maka Hendi akan mengambil posisi bergelantung di pintu angkot. Hendi tidak begitu suka cara menyetir Bang Indro, terlalu ugal-ugalan.
Menurut Hendi, bang indro terlalu ngebut untuk jalanan sepadat itu. Hendi hanya berdoa semoga Bang Indro tidak mengalami kecelakaan. Hendi hanya berdoa untuk bang Indro dan para penumpang. Ia lupa berdoa untuk dirinya sendiri.
Bang Indro ingin menyalip Truk besar itu dijalanan padat. Ia menyalip lewat kanan, padahal jalanan di sebelah kanan terlalu kecil untuk menyalip. Bang Indro menyupir terlalu cepat untuk jalanan sepadat itu, Sedang hendi terlalu lama untuk memasukkan tubuhnya ke dalam angkot. Kejadian berikutnya sudah dapat ditebak.
Tubuhnya yang bergelayut di pintu angkot menghantam badan truk dengan sangat keras, dan tiba-tiba dia merasa melayang. Di atas ada emak yang sedang menunggunya. Bukan, bukan hitam yang ia rasakan. Ia merasa terang, terang sekali tapi ia tidak silau. Matanya tak perlu menyipit jika ingin melihat dengan jelas. Emak menunggunya dengan senyum di atas sana.
Akhirnya Hendi memenuhi janjinya untuk menemui emak. Tapi Hendi tidak bisa membelikan bang joni oleh-oleh, ia tidak dapat kembali. Hendi meminta maaf karena tak ada sesuatu yang bisa di beli di sana. Hendi bahkan lupa membawa uang untuk membeli oleh-oleh.
Sekarang Hendi sudah bertemu emak, dan ia pun bertanya pada emak tentang semua pertanyaan yang ingin ia tanyakan dahulu. Sungguh, inilah saat-saat yang paling diinginkan oleh Hendi. Bertemu dengan Emak yang dirindukannya. Dan mereka berdua duduk di sebuah kursi taman, berbincang-bincang hingga entah kapan…

*****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s