Pameran

maka ku tiru kau dulu sebelum kau tiada
agar nanti kau tetap dikenal
nanti akan ku pajang tiruanmu di ruang pameran,
tanpa kaca
agar kau dapat dijamah dan tetap terjamah
ku tiru betapa penuh jaitan di hatimu
betapa otakmu menggelembung
dan betapa jantungmu kehilangan bilik
darahmu akan kutiru,
kualirkan dari kaki menuju otak tanpa singgah di jantung tanpa bilik
ku tiru tugas jantungmu yang hanya memberi irama pada darah agar tetap mengalir.
ku tiru semuanya,
seringaimu
bola matamu yang pupilnya mengecil
telingamu yang tinggal sebelah
semuanya.
kutiru perutmu yang buncit
kakimu yang tanpa alas
tanganmu yang selalu mengepal
semuanya.
dan kau tahu??
waktu berbisik kepadaku,
ia akan menirukan keadaan seperti ketika kau masih ada
tak ada yang mau menjamahmu

padahal ada yang tak kutiru
ketika air liur selalu menetes dari mulutmu, meski kau katupkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s