romance XVII : puisi di balkon sepi

angin yang berlarian mengabarkanku
tentang seuatu yang membuat degup jantungku melonjak.

awan yang gelap loteng yang diam
jantungku mendadak berhenti melonjak.

dia berjalan gontai kembali.
burung hantu memutar kepalanya
tanpa suara dengan jalannya yang gontai
angin berhenti berlari,
kabar tak jadi datang,
aku terduduk lemas di balkon rumah tua yang membesarkanku.

kamu sedang apa?
menulis si awan??
atau memahat air laut??
aku sedang memberi isyarat bunuh diri
balkon rumah yang lama membesarkannku diam dalam ungunya kematian
aku tahu kamu menyukai ungu, itulah kenapa aku ingin menyatu dengan ungu.

kau mau ikut??
tak usah.
aku ikut tanpa mengajakmu
aku tahu aku sedang sendiri
terlantar di loteng tanpa sudut
kuakhiri semua suara angin yang berbisik tanpa arah
seperti kuakhiri puisi ini dengan titik.

Arkhe&Galuh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s