celoteh gadis kecil pinggir jalan

“bu, aku kangen sama ibu…”
begitu dia berucap pada angin yang bermain di sela rambutnya.

Advertisements

Romance XIII: nostalgia angka 13

senjaku turun di angka tiga belas,
ketika tigabelas kelopak bunga rontok; luluh dari tangkai.

Arkhe & galuh

Romance XVI : ode mangkuk kosong

aku tulis sajak ini ketika seorang anak kecil
berjalan gontai di antara etalaseetalase penjual makan
makanan untuk perutperut buncit kenyang,
bukan untuk perutperut buncit lapar.

dan aku bersyukur dia tidak mempunyai perut yang buncit,
hanya rambutnya yang merah terbakar legam matahari.
ku tatap matanya yang menatap kosong mangkuk kosong
yang sebenarnya sedari tadi menatap anak kecil rambut merah tanpa perut buncit.

dia ingin makan, dengan panas
mankok ingin panas yang dimakan
aku ingin dia makan, aku jadi panas!.

Arkhe & galuh

Romanxce XV : es jeruk di atas meja

es jeruk di atas meja diseruput mulutmulut kosong makna.
habis.
meja bundar sedih tak ada orange, tak ada asam
bongkahan es di siang hari
gelasgelas bersih berembun sepi.

embun mengobrol dengan gelas, meja kemudian
tentang es jeruk yang malang -berumur pendek dalam mulutmulut kosong-

es jeruk di atas meja
romantisme ketika alunan hujan jadi tuts piano
dimainkan indah.
pohonpohon pada sudut mata,
kabut pagi pada air sungai yang mengalir indah.

hujan memiliki hati setiap helai daun rapuh
yang sebentar lagi akan berpisah dari sang ibu
hati dimiliki oleh hujan untuk setiap ulat yang memakan daun.
aku rindu es jeruk buatan ibu,
ujar ulat hijau kecil menggeliat.

arkhe & galuh

Romance XIV:hati

+ bukankah aku pernah berkata,
hati-hati saat meberi perhatian?

– penat, kau tahu. aku sedang penat.
aku pun tak tahu apa aku memberi perhatian atau tidak.
yang ku tahu hanyalah hati yang dingin di pinggir danau yang sepi.

+ karenanya aku bilang hati-hati!
“hati-hati” bukan kata tanpa makna

Arkhe & galuh