kau

: kepada ibu

selusin pensil,
seratus kertas,
beribu kata,
tak akan sanggup menggambarkanmu
yang menantiku dibawah pohon kala siang begitu jahat
dan aku hanya datang dengan keluh yang liar sepulang sekolah
saat aku masih menggunakan baju putih-merah

sebuah pohon,
sepuluh pemahat,
sejuta desain,
tak akan ada yang mampu mengabadikanmu
yang menawarkan senyum setiap hari sehabis menghadap Tuhan
saat matahari bahkan belum berani menunjukkan diri

seorang diri,
tiga otak,
satu hati,
sepuluh jari,
tak akan pernah sanggup membentuk kata,
bercerita lewat kertaskaca tentangmu
yang mengantar kepergianku dengan senyum dan doa dibawah rintik gerimis
saat matahari lari ke belahan bumi lain, dan rembulan berjalan santai ke langit atas rumah
aku yakin hatimu mencoba yakin saat melihatku melangkah pergi
membawa mimpi ke dunia nyata
dan aku hanya melambaikan tangan saat kau mengatupkan kedua tanganmu ke atas kepalamu
tadinya tangan itu ingin memeluk tubuh ini,tapi kau takut tak bisa melepasnya. aku tahu itu

langit mencintaimu, percayalah.
buktinya ia menyamarkan airmatamu dengan airmatanya.
dan aku tetap melangkah pergi menjauhi gerbang hitam yang setengah terbuka.
aku akan kembali, suatu saat nanti, melewati gerbang hitam yang entah masih terbuka atau tidak.
semoga kau ada di sana dengan tangan terbuka

Advertisements

One thought on “kau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s