kau

: kepada ibu

selusin pensil,
seratus kertas,
beribu kata,
tak akan sanggup menggambarkanmu
yang menantiku dibawah pohon kala siang begitu jahat
dan aku hanya datang dengan keluh yang liar sepulang sekolah
saat aku masih menggunakan baju putih-merah

sebuah pohon,
sepuluh pemahat,
sejuta desain,
tak akan ada yang mampu mengabadikanmu
yang menawarkan senyum setiap hari sehabis menghadap Tuhan
saat matahari bahkan belum berani menunjukkan diri

seorang diri,
tiga otak,
satu hati,
sepuluh jari,
tak akan pernah sanggup membentuk kata,
bercerita lewat kertaskaca tentangmu
yang mengantar kepergianku dengan senyum dan doa dibawah rintik gerimis
saat matahari lari ke belahan bumi lain, dan rembulan berjalan santai ke langit atas rumah
aku yakin hatimu mencoba yakin saat melihatku melangkah pergi
membawa mimpi ke dunia nyata
dan aku hanya melambaikan tangan saat kau mengatupkan kedua tanganmu ke atas kepalamu
tadinya tangan itu ingin memeluk tubuh ini,tapi kau takut tak bisa melepasnya. aku tahu itu

langit mencintaimu, percayalah.
buktinya ia menyamarkan airmatamu dengan airmatanya.
dan aku tetap melangkah pergi menjauhi gerbang hitam yang setengah terbuka.
aku akan kembali, suatu saat nanti, melewati gerbang hitam yang entah masih terbuka atau tidak.
semoga kau ada di sana dengan tangan terbuka

Advertisements

kalu aku..

kalau aku boleh,
aku masih menatap kagum dirimu saat kau tersenyum
-meski tanpa makna-

kalau aku bisa,
aku akan tertawa mengimbangi tawamu
-yang menggema di ruang tanpa batas-

kalau aku sanggup,
aku ingin merebutmu dari genggaman waktu,
ganti aku yang menggenggam

kalau aku dia,
aku buat hanya hatimu saja
yang meraja dihatiku

kalau aku engkau
aku baringkan hatiku di angin
hinggap di daundaun
termakan ulat

kalau aku angin
aku terbangkan hatimu
hanya ke hatiku

wanita besi

aku hanyalah wanita
bertopengbesi berukir senyum
hatiku hampirhampir aku lapisi besi
tapi tak jadi, aku takut lebih besi dari besi

mataku adalah mata fana
matahati hanya mengintip malumalu
yang mampu melihat kehakikian sebuah fana

rasaku adalah rasa besi kepada air
karenanya aku enggan mengeluarkan airmata
takut berkarat

sebesibesinya aku
jantungku masih berdetak normal
memompa darah ke otakku yang kadang beku
membuatku sadar aku adalah wanita besi
yang enggan menangis
yang tahan goresan pisaupisau kata

sesadarsadarnya aku
aku masih bermimpi menjadi wanita lembut
yang tak takut menangis
saat tergores sembilu katakata

sesakitsakitnya aku
saat tergores pisaupisau kata
aku masih mempunyai ukiran senyum di topengku
yang statis dan tak akan pernah berubah.

Galuh Sakti Bandini