roman picisan

I.
menunggumu
ditemani angin semilir
alunan melodi dalam hati
mengalir
sungai putih
bening kemudian
sucikah bening itu?
entahlah,
matamu bening
tapi tak begitu suci sepertinya.
persetanlah dengan mata beningmu itu
aku tetap menunggumu
disini bersama angin semilir
dan kadal yang hiperaktif
ku tunggu engkau sampai sinar mentari tak dipantulkan oleh telaga.

II
aku tak jadi menunggumu
burung gereja mungil berkata kepadaku:
tak usah kau tunggu dia yang sedang menunggunya
dia di temani semilir angin

seketika aku menjelma semilir
aku temani kau menunggunya
di ujung telaga sepi
angsa berdansa
romansa tercipta
untuknya

12112010

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s