ketika aku bisa membenci

aku belum bisa membenci sutuhnya,
karena aku masih memiliki sifat dari yang kubenci.
aku benci kemunafikan,
tapi apakah aku sama sekali tidak munafik?
aku benci kebodohan,
tapi apakah aku sudah layak dibilang pintar?
aku benci kepalsuan,
tapi apakah aku sudah cukup asli dimata orang banyak?
aku baru bisa membenci seutuhnya ketika aku sudah tidak mempunyai semua sifat dari yang kubenci.
aku baru bisa membenci seutuhnya ketika tak ada lagi udara yang bisa kuhirup da sudah tak ada lagi dayaku walau hanya sekedar membuka mata.
dan saat itu aku baru menyadari bahwa aku benci untuk membenci.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s