gw ngefans sma seno gumira ajidarma

gw ngefans banget sama seno gumira ajidarma and sapardi djoko damono .
kenapa ??
mungkin karena mereka semua itu cerdas, pinter, memukau, kerenn !!
melalui tulisan-tulisannya gw bisa terpukau.
tulisan-tulisannya tuh membius gw untuk terus membaca.
pemikiran-pemikiran mereka tuh gak biasa.
mereka bisa mengungkapkan perasaan dan pemikiran mereka lewat bahasa.

nah, gw jelasin dulu tentang seno, dan hal-hal yang bisa ngebuat gw ngefans sama dia.
menurut gw, seno adalah penulis yang radikal. dia suka ngebahas suatu masalah lewat artikel, atau lewat cerpen. dia bisa mengungkapkan pemikirannya lewat bahasanya sendiri.
cara yang gak biasa menurut gw.
dia suka nyindir wakil rakyat dan keadaan politik indonesia lewat bacaannya.
gw punya buku dia yang judulnya Surat Dari Palmerah. dia suka mengkritik tapi selalu merendah, walupun gw tau yang dia omongin itu udah tingkat tinggi.
dia bisa ngomongin politik dari sudut pandang kaki lima dan warung kopi.
dia bisa ngangkat tema yang sebenernya jarang kita pehatiin.
contohnya, dia pernah nulis artikel tentang penabuh gong (JAKARTA JAKARTA no.596)).
gini nih artikelnya :
bung, entah kenapa belakangan ini saya lebih banyak berpikir tentang penabuh gong ketimbang para menteri.

mula-mula saya berpikir tentang gong itu sendiri, sebuah benda yang konkret dan eksak, yang harus dibuat dengan segenap akurasi dan presisi. pikiran ajaib macam apakah yang ada dalam kepala seorang pencipta gending itu dahulu kala, sehingga ia harus membuat komposisi yang menuntut bunyi dengung gandem marem dari sebuah alat gong besar itu ?

kemudian saya memikirkan penabuh gong itu. pekerjaan macam apakah yang dijalankan seorang penabuh gong? seorang pemain biola anggota Bantul Philharmonic Orchestra akan dengan sangat mudah bermain secara solo-mandiri sebagai seorang musisi-. tapi bagaimanakah dengan seorang penabuh gong? mungkinkah memainkan sebuah komposisi hanya dengan gong ? dalam konteks kontemporer, tentu saja sangat mungkin. namun saya bicara dalam konteksnya sebagai bagian dari komposisi gamelan tradisional. tidak mungkin bukan ?

maka keadaan seoang penabuh gong akan selalu tergantung kepada keutuhan rombongan karawitan itu. akan selalu hanya merupakan bagian yang meskipun sebetulnya tidak bisa dilepaskan, seolah-olah tak akan pernah menjadi penting. hanya nge-gong-i. namun posisi penabuh gong itu harus selalu diisi. kalau tidak, siapa yang akan menabuh gong itu ? bisakah dibayangkan orkes gamelan itu berbunyi tanpa gong? meskipun sepertinya tidak penting, gong harus ada: diperlukan seseorang yang dilahitkan ke dunia untuk selam hidupnya menjadi penabuh gong. ini bisa berarti tugas. ini juga bisa berarti tumbal. seseorang yang menjadi penabuh gong telah merelakan diri dan hidupnya dipersembahkan untuk sebuah bunyi sebagai bagian dari suatu komposisi.

tentu saja ajaib untuk memikirkan fungsi alat dan bunyi gong itu. ia hanya dipukul sekali-sekali, pada saat yang tidak selalu bisa diperhitungkan secara matematis, tanpa virtuositas juga barangkali, namun tetap menuntut ketepatan yang setara dengan ketepatan peredaran semesta. apa boleh buat. karena hanya dengan begitu bunyi gong itu akan memberi makna kepada harmonie preetablie-keserasian yang sudah ditetapkan Tuhan (leibniz).

barangkali kita tak akan pernah tahu persis apa sebenarnya fungsi gong itu, bahkan bunyi yang diandalkan pun tampaknya bukan bunyi itu sendiri, tak juga nada, tak juga warna bunyi, tapi terutama gelombang udara yang digetarkannya dan membuat dad kita terasa aneh ketika disapu getaran itu. tidakkah begitu? yang lebih ajaib lagi dalam komposisi gending jawa itu: pada puncak rasa, kita selalu disadarkan dengan melakukan penurunan mendadak (memang, ini bukan istilah musik)-sehingga pendengar mendapat perasaan seorang penumpang pesawat terbang yang mak nyuuutt tiba-tiba, supaya tidak keenakan. harmoni itu mengalami dekonstruksi. busyet.

bung,
barangkali banyak diantara kita hanya berfungsi sebagai penabuh gong. tapi, tepatkah kata ‘hanya’ dalam kalimat itu? bukankah gending-gending menjadi cemplang tanpa bunyi gong? bukankah bunyi gong itu sendiri hanya bisa dihadirkan lewat sebuah instrumen yang tidak sembarangan pembuatannya? bukankah gelombang udara itu juga membuktikan posisi instrumennya yang tak tergantikan manipulasi bunyi secanggih apapun? sadarilah betapa setia seseorang yang menjadi penabuh gong selama hidupnya. betapa seseorang mengabadikan seluruh hidupnya untuk memukul gong pada saat yang tidak bisa lebih tepat lagi perhitungannya.

well, well, well. barangkali memang lebih menarik berpikir tentang para penabuh gong ketimbang para menteri yang gagal.

salam dari pal merah.

SGA

NB. sukab lebih suka mendengarkan gending, ketimbang membaca koran

dia sering banget nulis wayang, dan dari cerita wayang itu dia ambil kesimpulannya.
bisa tentang politik, tentang kehidupan, dll.
gw paling suka baca tulisan dia tentang wayang.
gw bisa belajar banyak tentang kehidupan.
gara-gara seno, gw akhirnya beli buku tentang wayang. hhe

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s